Senin, 15 Februari 2010

HALAMAN PENGESAHAN KARYA ILMIAH

Pencemaran Lingkungan dan Model Penanganan Limbah di Industri Penjamakan Kulit

Nama Anggota Kelompok :

Genta Saputra

Wahyu Kurniawan

Rahmi Putri Yanti

Yanti Prasetia Anisma

Andal Putra Naldi

Padang Panjang, Januari 2010

Guru Pembimbing : Meri Susanti. S.pd

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdullilah penulis ucapkan kehadiran Allah Swt, atas rahmat dan karuniaNya sehingga penulis telah dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul “pencemaran lingkungan"Karya ilmiah ini penulis buat untuk melengkapi sebagian dari tugas mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) pada Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK ) Negeri 2 Padang Panjang.

Dalam pembuatan karya ilmiah ini penulis tidak terlepas dari bimbingan serta arahan dari berbagai pihak hingga selesainya karya ilmiah ini, maka untuk itu penulis tidak lupa mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar besarnya kepada:

1. Ibuk Meri Susanti S.Pd selaku guru mata pelajaran IPA

2. Majelis Guru SMK Negeri 2 Padang panjang yang secara tidak langsung membantu dalam pembuatan karya ilmiah.

3. Rekan – rekan siswa yang telah membantu dalam pembuatan karya ilmian ini.

4.Semua pihak yang tidak bisa sebutkan penulis satu persatu yang telah membantu dalam pembuatan karya ilmiah ini.

Semoga bimbingan dan arahan yang diberikan kepada penulis menjadi amal sholeh dihadapan Allahswt.Penulis pun menyadari bahwa ilmiah ini djauh dari kesempurnaan seperti kata pepatah “ Tak ada gading yang tak retak” untuk penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan karya ilmiah ini, akhir kata terima kasih semoga karya ilmiah dapat bermamfaat bagi kita semua amin.

DAFTAR ISI

Halaman Pengesahan ..................................................................

Kata Pengantar ...........................................................................

Daftar ISI.......................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah..................................................

B. Perumusan Masalah..........................................................

C. Tujuan Karya Ilmiah........................................................

BAB II PEMBAHASAN

  1. Tempat dan Waktu Pengambilan Data.............................

B. Gambaran Industri Penjamakan Kulit.............................

C. Jenis Pencemaran yang Terjadi........................................

  1. Jenis Polutan........................................................................
  2. Dampak Pencemaran Terhadap Kesehatan Manusia.....
  3. Dampak Pencemaran Terhadap lingkungan....................
  4. Penanggulan.........................................................................

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan...........................................................................
  2. Saran......................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan dari dunia industri khususnya industri rumahan sangatlah pesat. Seperti halnya dengan indusri penjamakan kulit. Salah satunya adalah yang bertempat di Silaing bawah. Industri ini bergerak dibidang pengolahan kulit hewan menjadi setengah jadi untuk dijadikan kerajinan berupa sepatu, ikat pinggang dan asesoris lainnya. Industri ini berdiri sejak tahun 1990-an, dengan jumlah pekerja 4 orang. Dalam satu bulan mereka mampu menghasilkan satu ton kulit yang dapat dikirim ke berbagai daerah.

Industri penyamakan kulit ini menggunakan bahan mentah diantaranya; kulit hewan, kapur, pupuk NPK, dan kulit pohon Akasia. Kulit hewan diambil dari daerah penghasil daging, yang dikumpulkan dari para pengumpul kulit. Kapur diambil dari pondok kapur Bukit Tui, kapur digunakan sebagai pelunak bulu dan pelunak daging bagian perut. Pupuk NPK untuk pelunak kulit ketika perendaman sesudah dibuang bulunya. Kulit pohon akasia diambil dari pohon akasia yang tumbuh di kaki gunung Merapi. Kulit ini digunakan sebagai pewarna dan pemasak kulit.

Kulit yang dihasilkan ini dijemur dan dikelola menjadi berbagai bahan kerajinan tangan. Meskipun industri ini bergerak sebagai industri rumahan tapi lumayan besar memberikan income pada industri. Kami mengambil industri sebagai bahan karya ilmiah, karena industri ini berdampak pada lingkungan, seperti bau yang menyengat dari industri. Selain dari pencemaran udara juga memberikan dampak pada perairan karena dapat membunuh biota air seperti ikan. Dampak lainnya memberikan kesuburan pada tanah.

Model penanganan limbah yang digunakan adalah penanganan limbah padat dan cair sesuai dengan polutan yang dihasilkan. Produk dari model ini adalah model pengolahan primer, pupuk kompos, dan produk krupuk serta kikil.

Adapun topic yang kami kupas dalam karya ilmiah ini adalah; gambaran umum dari industri, jenis pencemaran yang terjadi, polutan yang ada di industri, dampaknya pada kesehatan manusia, dampak pada lingkungan dan model penanganan limbah.

B. Perumusan Masalah

1. Sejauh manakah pencemaran yang terjadi di industri Penjamakan kulit di Silaing Bawah.

2. Bagaimanakah model penanganan limbah yang dapat dibuat di industri penjamakan kulit.

C. Tujuan karya ilmiah

1. Memberikan gambaran tentang pencemaran lingkungan yang terjadi di industri penjamakan kulit

2. Memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang upaya penanggulan dari industri penjamakan kulit.

3. Memberikan model penanganan limbah yang dapat digunakan masyarakat khususnya industri penjamakan kulit.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Tempat dan Waktu Pengambilan Data

1. Tempat pengambilan data

Tempat pengambilan data : industri penjamakan kulit yang bertempat di silaing bawah.

2. Waktu pengambilan data

Waktu pengambilan data : dilakukan pada hari Senin tanggal 16 November 2009 pada jam 16.00 WIB.

B. Gambaran industri Penjamakan kulit

Industri penjamakan kulit merupakan industri yang bergerak di bidang pembersihan kulit hewan untuk dapat dijadikan sebagai bahan kerajinan seperti buat dompet,ikat pinggang,tas,dan kerajinan lainnya. Industri ini bergerak mulai dari tahun 90-an dengan banyak pekerja 4 orang. Untuk mendapatkan kulit yang bersih dan bagus industri ini menggunakan bahan tambahan seperti kapur, pupuk NPK, dan kulit dari pohon akasia. Adapun proses penjamakn kulit adalah sebagai berikut:

  1. Memilih kualitas kulit yang bagus

Untuk mendapatkan kulit yang berkualitas terlebih dahulu pekerja mensortir kulit dengan cara memisahkan kult yang masih utuh dengan yang sudah robek. Kedua kulit ini ditempatkan di tempat yang terpisah. Kulit yang bagus selanjutnya di rendam dengan air bersih selama satu hari satu malam untuk menghilangkan garam yang menempel. Kulit yang robek di oleh menjadi kerupuk kulit.

  1. Tahap perendaman dengan kapur

Kulit yang telah dibersihkan dari kadar garamnya, selanjutnya di rendam dalam bak kapur selama 15 hari. Tujuan dari perendaman ini adalah untuk melunakkan kulit supaya bulunya bisa lepas dari kulitnya, dan melunakkan sisa-sisa daging yang masih menempel pada kulit. Satu minggu kulit di rendam dalam kapur dan diangkat untuk membersihkan bulu-bulu yang menempel. Setelah itu direndam ladi selama seminggu untuk membuang daging yang menempel pada kulit. Kemudian diangkat untuk dikelola pada tahap selanjutnya.

  1. Tahap perendaman dengan pupuk NPK dan dengan kulit pohon akasia

Tahap ini merupakan lanjutan dari tahap ke dua dengan tujuan untuk melunakkan kulit selama satu hari satu malam. Kemudian kulit dimasukan ke dalam bak yang berisi larutan kulit akasia selama 40 hari. Setela 40 harikulit diangkat, dan langsung dijemur. Setelah kulit tersebut kering kemudian kulit yang setengah jadi tersebut dikirim ke para pengerajin kulit yang ada di daerah-daerah yang banyak terdapt pengerajin kulit seperti di Bukit Tinggi dan disekitar tempat tinggalnya. Umumnya dalam waktu satu bulan industri ini dapat menghasilkan kulit sekitar 4 ton.

C. Jenis pencemaran yang terjadi

Pencemaran yang terjadi pada industri ini adalah pencemaran udara dimana menghasilkan bau kulit hewan yang sangat menyengat. Selain itu juga terjadi pencemaran air karena menghasilkan buangan dari limbah NPK, kapur, dan sisa air dari bekas perendaman kulit akasia. Walaupun industri ini memberikan dampak pada air dan udara namun pada tanah dapat menyuburkan.

D. Jenis polutan

Berdasarkan wujutnya polutan diindustri penjamakan kulit dapat berupa padat seperti:kapur,kulit akasia, bulu hewan, dan sisa dari perutnya. Polutan yang berupa cair seperti:air kapur, NPK,dan air bekas perendaman kulit akasia,polutan yang berupa gas seperti:bau.

Berdasarkan jenis senyawa polutan berupa senyawa organik seperti: kulit akasia, bulu hewan, sisa-sisa daging perut. Polutan berupa senyawa anorganik seperti:air kapur, dan limbah NPK. Berdasarkan bahan berbahaya polutannya termasuk bahan yang tidak berbahaya.

E. Dampak pencemaran terhadap kesehatan manusia

Smpai saat sekarang ini belum ada kasus yang menunjukan industri ini memberikan dampak buruk pada kesehatan manusia,hal ini dikarenakan industri tidak menggunakan bahan yang berbahaya.

F. Dampak pencemaran terhadap lingkungan

Industri penjamakan kulit memberikan dampak pada lingkungan berupa:bau yang menyengat yang berasal dari tumpukan kulit dan sisa dari olahan kulit. Selain dari itu bila limbah cairnya masuk ke perairan akan memberikan dampak eutrofikasi yaitu pertumbuhan ganggang yang pesat yang disebabkan oleh kulit akasia,dan pupuk NPK. Selain itu juga memberikan dampak pada biota air seperti:ikan,zooplankton, dan mikro organisme lainnya. Serta meningkatkan kekeruhan air di perairan sekitar.

Namun tidak memberikan dampak pada tanah karena sisa-sisa dari limbah organiknya diolah menjadi pupuk.

G. Penanggulangan Pencemaran Lingkungan

Untuk mngurangi dampak pencemaran industri terhadap udara dan air ada

beberapa langkah yang dapat ditempuh sebagai berikut:

1. sisa limbah organik diolah menjadi pupuk kompos. Selai menjaga lingkungan juga dapat memberikan tambahan income bagi industri.

2. limbah yang berupa cairan sebelum dibuang ke badan air terlebih dahuli dimasukan ke dalam kolam penampungan untuk disaring dan dibersihkan dari senyawa anorganik.

3. limbah yang berupa bulu hewan dapat dibakar.

4. limbah bekas daging yang tersisa bisa dijadikan pakan lele, dibuat kerupuk kulit dan kikil.

H. Model Penanganan Limbah

Untuk menangani limbah dari industri penjamakan kulit digunakan teknik pengolahan limbah padat dan limbah cair sesuai dengan limbah yang dihasilkan industri. Prosedur dan sisa limbah digambarkan dalam gambar 1.

Adapun skema penanganan limbah industri dan posisi dari industri di pemukiman penduduk dapat diliha dalam gambar 2 dan 3.


Gambar 2

Gambar 3

Penangan limbah padat menggunakan teknik pembuatan pupuk kompos, yaitu mencampurkan limbah seperti bulu, kulit akasia, sisa daging ke dalam drum yang berisi air. Untuk mempercepat proses pengomposan ditambahkan bakteri seperti larutan EM4 atau MOL atau bakteri rumen dalam usus hewan lalu ditutup rapat sampai terbeuk pupuk cair. Prosedur pembuatan pupuk dapat di lihat pada gambar 4.

Gambar 4

Penanganan limbah cair menggunakan pengolahan primer

Karna limbah cair hanya mengandung polutan yang dapat disingkirkan melalui pengolaha primer maka limbah dapat langsung di buang ke perairan.

Tahap pengolahan primer limbah cair sebagian besar adalah berupa proses pengolahan secara fisik. Pertama, limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring dengan menggunakan jeruji saring (bar screen). Metode ini di sebut penyaringan (screening). Metode penyaringan merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan-bahan berukuran besar dari air limbah. Kedua, limbah yang telah disaring kemudian akan disalurkan ke suatu tangki atau bak yang berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat tersuspensi lain yang berukuran relatif besar. Tangki ini dalam bahasa inggris disebut grit chamber dan cara kerjanya adalah dengan memperlambat aliran limbah sehingga partikel-partikel pasir jatuh ke dasar tangki sementara air limbah terus dialirkan untuk proses selanjutnya. Kedua proses yang dijelaskan di atas sering disebut juga sebagai tahap pengolahan awal

( pretreatment ).

Setelah melalui tahap pengolahan awal, limbah cair akan dialirkan ke tangki atau bak pengendapan. Metode pengendapan adalah metode pengolahan utama dan yang paling banyak digunakan pada proses pengolahan primer limbah cair. Di tangki pengendapan, limbah cair didiamkan agar partikel-partikel padat yang tersuspensi dalam air limbah dapat mengendap ke dasar tangki. Endapan partikel tersebut akan membentuk lumpur yang kemudian akan dipisahkan dari air limbah ke saluran lain untuk diolah lebih lanjut seperti bahan pencampur pembuatan kompos.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Jenis pencemaran yang terjadi yang diakibatkan dari industri penjamakan kulit yaitu pencemaran air yang berasal dari pembuangan sisa air kulit akasia, kapur, dan NPK dan pencemaran udara yang berasal dari kulit hewan, polutan berupa gas, kulit hewan, sisa pupuk NPK, kapur, kulit akasia, dan sisa perut hewan yang diambil kulitnya.

2.Tidak Memberikan Dampak Pencemaran Terhadap Kesehatan Manusia.

3.Dampak Pencemaran Terhadap Lingkungan yaitu memberikan bau pada lingkungan sekitar, mencemari air, dan membunuh biota air.

4.Penanggulangannya yaitu mengelola buangan industri menjadi pupuk dan sisa lainnya bagus ditumpuk pada suatu tempat supaya tidak mencemari lingkungan.

5.Model penanganan limbah yang digunakan berfokus pada penanganan limbah padat dan cair yaitu pupuk kompos dan pengolahan primer.

B. Saran

Untuk menjaga lingkungan di sekitar tempat industri, maka bagi pekerja jangan membuang limbah industri ke badan air supaya tidak merusak lingkungan sekitar. Mode penanganan limbah ini dapat diaplikasikan pada industri yang bergerak pada penjamakan kulit .

DAFTAR PUSTAKA

Ernawati; Dewi Luvfiati; Mieke Miarsah; Tya mutiara. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMK dan MAK kelas XI. Jakarta: Erlangga.

Ratih, dkk. 1999. Sains Kimia 2b untuk SMU. Jakarta: Bumi Aksara.

Tresna Sastrawijaya. 2000. Pencemaran Lingkungan. Jakarta: Rineka cipta

Perdana Ginting. 2007. sitem pengelolaan lingkungan dan limbah industri. Bandung: Yrama Widya.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

mantap

Poskan Komentar